Jimin dari Sebuah Musim yang Baru
Kami mengundang seorang pria yang kehadirannya terasa begitu istimewa dan disambut dengan penuh kehangatan.
Jimin, yang kini telah mekar sepenuhnya dan siap menyambut musim yang baru, tak terelakkan memikat sebuah lanskap baru melalui keharuman segar yang kaya dan memikat.
Di sela-sela ucapan Jimin, saat ia dengan tenang mengungkapkan keyakinan dan selera yang menggambarkan dirinya di momen ini, rasa antusiasnya untuk kembali sebagai anggota BTS semakin terasa. Untuk mengungkapkan kilau Jimin di masa kini ketika ia bersiapnnaik ke atas panggung sabagai "angka tujuh" yang lengkap, bahkan tujuh edisi sampul Vogue pun rasanya masih belum cukup.
Kamu lagi menjalani pemotretan pertamamu bareng Vogue setelah menyelesaikan wajib militermu. Tiga tahun yang lalu, saat kita bertemu menjelang perilisan album solo pertamamu, "FACE," kamu dipenuhi dengan rasa antusias sekaligus takut untuk melangkah sendiri. Sekarang, dalam hal apa saja kamu merasa benar-benar berbeda, dan apa yang masih tetap sama?
PJM: Sejujurnya, aku sendiri juga tidak begitu yakin. (tertawa) Aku juga tidak merasakan ada perubahan besar secara penampilan luar. Namun, jika dibandingkan dengan saat itu, kini aku lebih sering memikirkan pola pikirmu serta hal-hal yang benar-benar ingin aku lakukan.
Akhir-akhir ini, kamu lebih sering bertemu dengan para penggar melalui siaran langsung bersama para anggota
Baik BTS maupun ARMY sama-sama terlihat penuh antusias menantikan comeback penuh BTS yang resmi diumumkan pada 20 Maret. Dalam salah satu siaran langsung, kamu sempat berkata, "Sekarang ini adalah masa kejayaan BTS."
PJM: Ucapan itu muncul karena aku memikirkan usia fisik kami. Tapi seperti apa yang kamu katakan, kalau lewat album terbaru BTS orang-orang kemudian menyebut ini sebagai masa kejayaan kami, aku benar-benar tidak bisa meminta lebih dari itu.
Apakah ada pertanyaan inti yang sangat terasa selama proses mengerjakan album baru ini?
PJM: Aku terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti, "Seperti apa BTS saat benar-benar menjadi BTS?" Tentu saja, itu adalah hal yang selalu kami pikirkan. Tapi album grup ini akan memperlihatkan jejak-jejak kegelisahan itu—kegelisahan tersebut—dengan lebih jelas dibandingkan dengan karya kami sebelumnya. Justru karena itu, album ini mungkin akan terasa lebih baru.
Melalui album solo pertamamu, "FACE," kamu berhadapan dengan berbagai sisi dalam dirimu sendiri, dan lewat album solo keduamu, "MUSE," kamu akan kembali menemukan orang-orang laun serta dunia yang memberikanmu inspirasi. Apakah kedua album itu memberikanmu tujuan-tujuan baru? Dan jika iya, apakah hal itu memengaruhi caramu bermusik sebagai sebuah grup?
PJM: Sebenarnya, bukan persoalan soal itu. Justru saat mengerjakan album grup ini, aku mendapatkan banyak inspirasi dan pengaruh baru. Hal itu membuatku semakin ingin menciptakan musik yang lebih baik dengan tanganku sendiri. Aku masih belum tahu arah pastinya ke mana, tapi aku harap kalian bisa menantikannya.
Lewat "Like Crazy," kamu menjadi artis Korea pertama yang berhasil menduduki puncak Billboard Hot 100 baik sebagian dari grup maupun sebagai solois, meraih kesuksesan musik sekaligus respons publik yang luar biasa. Itu tentu bukan pencapaian yang mudah. Apa sebenarnya tujuan utamamu saat membuat musik?
PJM: Lewat aktivitas soloku, aku benar-benar menyadari betapa ada banyak orang yang mendukungku. Saat aku mulai ingin karya-karyaku menjadi hadiah yang lebih berarti bagi mereka, aku merasa aku perlu memahami dengan lebih jelas apa yang sebenarnya ingin aku lakukan. Di situlah tujuanku menjadi lebih jelas: menciptakan sebuah album yang benar-benar mencerminkan ceritaku sendiri—mulai dari genre, melodi, hingga satu baris lirik sekalipun.
Dalam Season 2 acara varietas "Are You Sure?!" yang kami bintangi bersama Jungkook, kamu menjawab pertanyaan "Apa yang paling ingin kamu lakukan sekarang?" dengan mengatakan, "Aku ini bersama dengan BTS. Aku sudah mempersiapkan banyak kayu bakar, tapi tungkunya agak aus." Saat kamu berdiri di ambang tantangan baru yang yang menggairahkan, hal apa yang paling giat kamu latihan saat ini?
PJM: Aku menempatkan kesehatanku sebagai prioritas utama, sehingga aku berfokus pada latihan-latihan yang memang dibutuhkan oleh tubuhku. Untuk mencegah kondisi tubuhku menurun secara drastis sekaligus, aku juga secara proaktif menjalani terapung rehabilitasi bersamaan dengan latihan tersebut.
Terasa bahwa seni Jimin sejak awal selalu berangkat dari tubuh. Seiring dengan berjalannya waktu, apakah terdapat perubahan dalam caramu memandang tari dan tubuhmu? Jika ada satu kesadaran yang kini menjadi lebih penting jika dibandingkan dengan sebelumnya, apakah itu?
PJM: Kecintaan saya terhadap tari tetap tidak berubah, namun pada suatu titik saya menyadari bahwa waktu yang saya curahkan untuknya perlahan semakin berkurang. Hal tersebut mungkin merupakan perubahan yang wajar, tetapi saya sedang berupaya untuk menemukan kembali perasaan awal tersebut.
Dalam pemotretan Vogue yang telah lama dinantikan, kamu memancarkan energi yang segar dan lembut bersama Dior. Pesona khasmu yang boyish—murni namun tidak konvensional, tampak berpadu dengan sangat harmonis dengan produk Dior terbaru.
PJM: Saya menyukai keindahan yang tercIotak dari suasana keseluruhan yang bersih, dengan sentuhan gaya yang elegan sebagai pelengkap. Saya berterima kasih kepada Dior sebagai mitra yang membantu saya menampilkan citra tersebut. Tentu saja, Dior sudah indah sejak dulu, namun setelah Jonathan Anderson menjabat sebagai direktur kreatif, terasa seolah warna-warna baru telah dilaporkan ke dalam keanggunan klasik rumah mode ini, yang membuat saya semakin menantikan apa yang akan datang.
Sebagai seorang seniman, aspek identitas apa yang kamu harapkan dapat diwakili oleh fesyen—sebagai salah satu cara untuk mengekspresikan nilai-nilai—bagi dirimu?
PJM: Sejalan dengan apa yang telah saya sampaikan sebelumnya, dibandingkan sesuatu yang dengan lantang mengatakan "inilah gaya," saya lebih mengejar selera gaya yang halus dan terasa dalam batasan—demikian pula dengan musik yang saya ciptakan. Akan terasa lebih baik lagi apabila di dalamnya juga terkandung kejujuran yang hadir secara alami.
Apakah ada warna, material, atau siluet tertentu yang belakangan ini kerap kamu pilih kembali?
PJM: saya sejak dulu memiliki ketertarikan pada warna-warna monokrom, namun akhir-akhir ini satu mulai mencoba nuansa yang lebih cerah. Untuk material, saya tetap lebih menyukai bahan-bahan yang terasa nyaman saat dikenakan di tubuh.
Kamu telah berdiri di begitu banyak panggung yang berbeda, dan masih akan ada banyak kesempatan baru di hadapanmu. Apakah ada rahasia pribadi yang membantumu merasa nyaman dan tetap menjadi diri sendiri di dunia yang masih terasa asing?
PJM: sejujurnya, saya sendiri masih benar-benar tidak tahu caranya. Saya sering merasa kesulitan karena cenderung sangat gugup dan tidak secara alami merasa nyaman dalam situasi seperti itu. Jika ada yang mengetahui solusi yang jelas, saya akan sangat senang menerima sarannya. (tertawa)
Sudah 12 tahun sejak debutmu. Seluruh anggota BTS kerap mengatakan, "Tanpa grup, tidak akan ada diriku." Apakah ada momen-momen baru ketika kamu benar-benar merasakan bobot dari kata-kata tersebut?
PJM: saya merasakan bobot dari kata-kata itu di setiap momen. Mulai dari yang paling biasa, seperti berada di rumah atau menyantap makanan, hingga momen-momen yang lebih intens seperti saat menciptakan musik yang saya impikan—semuanya. Segala hal yang saya nikmati saat ini berasal dari BTS dan ARMY, sehingga saya berusaha untuk tidak pernah melupakan hal tersebut.
Kamu telah menerima cinta yang terasa bak mimpi sambil tetap setia pada diri sendiri tanpa terlalu terguncang. Namun, saat memasuki tahun 2026, adakah sisi dari dirimu yang ingin kamu ubah?
PJM: Dalam banyak hal, ada semacam keragu-raguan yang secara tak terelakkan terbentuk dalam diri saya. Hal itu selalu terasa seolah menghambat langkah saya. Saya ingin menjadi pribadi yang lebih tegas, tetapi hal tersebut tidak semudah sekadar membuat sebuah tekad. Meski demikian, pada tahun ini saya ingin mencoba mengubahnya—menjadi seseorang yang mampu menyampaikan pendapatnya sendiri dengan jujur.
Artikel asli: Vogue Korea































Comments
Post a Comment