Perkembangan mengenai idol asing dalam K-pop asing dalam K-pop kembali mencust seiring BTS membagikan perspektif yang kian berkembang
Seiring K-pop melanjutkan ekspansi globalnya yang pesat, perdebatan lama mengenai definisi genre ini kembali mencuat ke permukaan. Dengan meningkatnya partisipasi artis asing serta semakin banyaknya rilisan berbahasa Inggris, pertanyaan mengenai batasan-batasan di K-pop—dan siapa saja yang termasuk di dalamnya—menjadi semakin sulit untuk dijawab.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak grup idola K-pop yang merilis lagu-lagu yang sangat dipengaruhi oleh gaya produksi Amerika Serikat dan Eropa, bahkan sejumlah di antarnya ditulis sepenuhnya oleh penulis lagu Barat. Pada saat yang bersamaan, industri ini juga menyaksikan meningkatnya jumlah grup multinasional, termasuk grup-grup yang sebagian besar—atau bahkan seluruh anggotanya bukan warga negara Korea. Grup seperti BLACKSWAN dan Katseye kerap disebut sebagai contoh dari fenomena tersebut.
Perkembangan ini memicu beragam reaksi di kalangan penggemar. Sebagian kritikus berpendapat bahwa formasi multinasional dan kehadiran anggota non-Korea dapat mengaburkan esensi K-pop, sehingga mempertanyakan apakah grup semacam itu layak diklasifikasikan sebagai idola K-pop—meskipun musik, bahasa, dan gaya penampilan mereka sangat menyerupai praktik K-pop pada umumnya.
Menariknya, perdebatan ini tidak hanya ditujukan kepada grup-grup pendatang baru. BTS, yang secara luas dianggap sebagai grup K-Pop paling berpengaruh dalam sejarah, juga berulang kali menghadapi sorotan terkait identitas mereka, khususnya setelah merilis singel berbahasa Inggris secara penuh serta menjalin kolaborasi dengan artis dan produser Barat. Sejumlah media kerap mempertanyakan apakah BTS masih pantas dianggap representasi K-pop.
Diskusi ini kembali mendapatkan perhatian remhan kembalinya BTS melalui album studio kelima mereka, ARIRANG. Menurut Forbes, "Bagi sebuah grup yang meraih kesuksesan global sambil mempertahankan identitas Korea, menamai album comeback dengan lagu rakyat yang paling dicintai di negara tersebut terbaca sebagai sinyal untuk kembali ke akar." Dalam konteks ini, pandangan BTS mengenai definisi K-pop yang terus berkembang pun menarik minat yang besar.
Dalam sebuah wawancara terbaru, pemimpin grup RM mengakui bahwa ia telah ditanyai soal definisi K-pop berkali-kali, baik di Korea maupun di luar negeri. Ia mengatakan bahwa pandangannya sendiri telah berubah seiring dengan berjalannya waktu.
Mengenang penampilan internasional awal BTS, RM menjelaskan bahwa saat menghadiri Billboard Music Awards pada 2017, ia kerap mendeskripsikan K-pop sebagai perpaduan komprehensif dari berbagai elemen seperti musik, koreografi, visual, video musik, dan penceritaan multimedia. Saat itu, unsur-unsur tersebut menbantu membedakan K-pop dari genre pop global lainnya.
Namun, menurut RM, memasuki dekade 2020-an, perbedaan tersebut semakin kabur. Menyinggung semakin banyaknya grup dengan anggota asing, ia menegaskan bahwa artis yang berkiprah dalam sistem K-pop tetap dikategorikan sebagai K-pop, terlepas dari kewarganegaraan mereka. Di banyak pasar Barat, label genre "K-pop" digunakan secara luas berdasarkan gaya dan kerangka industrinya, bukan asal-usul artisnya.
RM juga menyinggung pengalaman BTS sendiri sebagai contoh tandingan, dengan mengacu pada lagu hit mereka tahun 2020, "Dynamite." Meskipun lagu tersebut dibawakan sepenuhnya dalam bahasa Inggris, karya itu dihasilkan oleh grup yang seluruh anggotanya berkebangsaan Koreadan mengikuti format K-pop yang telah mapan, lengkap dengan koreografi, video musik, serta promosi multimedia berskala besar. Kendati berhasil menduduki puncak Billboard Hot 100, RM mempertanyakan apakah bahasa semata seharusnya menjadi faktor penentu untuk mengecualikan sebuah lagu dari kategori K-pop.
Pada akhirnya, RM menyimpulkan bahwa K-pop merupakan sebuah konsep yang terus berkembang. Seiring evolusi genre ini, makna yang melekat padanya pun turut berubah, sehingga definisi yang kaku menjadi semakin tidak relevan. Ia menekankan bahwa identitas K-pop akan terus bergeser sejalan dengan adaptasinya terhadap audiens baru dan pengaruh budaya yang beragam.
Jimin menyampaikan penutup yang lebih ringkas, dengan mengajak para penggemar untuk tidak terlalu terpaku pada label dan lebih memusatkan perhatian pada kenikmatan pribadi. Pesannya sederhana: apabila musik tersebut dapat menyentuh perasaan, maka hal itu sudah cukup.
Secara keseluruhan, pernyataan BTS mencerminkan transformasi K-pop yang lebih luas di era globalisasi. Ketika batasan-batasan budaya dan kebangsaan kian memudar, pertumbuhan global genre ini semakin dipandang bukan sebagai kehilangan identitas, melainkan sebagai bukti data adaptasi dan pengaruhnya. Bagi banyak penggemar, komentar BTS menegaskan bahwa kekuatan K-pop terletak pada kemampuannya untuk terus berevolusi—sebuah evolusi yang senantiasa menentang definisi konvensional dan membentuk ulang lanskap musik global.





Comments
Post a Comment