Rencana Utama Jin dengan BigHit yang Dibuat 10 Tahun Lalu Mendadak Kembali Viral
Banyak penggemar telah mengetahui bahwa Jin direkrut oleh BigHit Entertainment melalui metode street casting ketika ia masih berstatus sebagai mahasiswa jurusan seni peran di Universitas Konkuk. Namun demikian, yang mungkin belum banyak diketahui adalah bahwa di waktu yang bersamaan, SM Entertainment juga mengajukan tawaran kepadanya—sebuah tawaran yang pada akhirnya ia tolak. Hal yang mengejutkan, jika dibandingkan degan BigHit, SM pada saat itu merupakan perusahaan yang jauh lebih mapan dan memiliki posisi yang jauh lebih kuat dalam industri hiburan.
Lantas, mengapa Jin memilih BigHit ketimbang raksasa industri seperti SM? Kenyataannya, staf BigHit Entertainment tampak jauh lebih "berpengalaman" dalam hal yang secara bercanda disebut Jin sebagai "melakukan tipu muslihat."
"Aku tertipu (tertawa)," ujar Jin ketika mengenang proses perekrutannya oleh BigHit Entertainment pada musim semi tahun 2011. Ia melanjutkan, "Lihat saja bagaimana para idola saat ini masuk ke dunia akting—'Nanti kami akan membuatmu menjadi seorang aktor.' Begitulah cara mereka meyakinkanku. Mereka sangat persuasif."
Meskipun "tipu muslihat" tersebut pada akhirnya berujung pada kesuksesan besar bagi BigHit maupun Jin, tampaknya ia tidak sepenuhnya melupakannya. Sebaliknya, ia justru menyusun sebuah rencana jangka panjang untuk "membalas" agensinya. Sepuluh tahun kemudian, rencana Jin tersebut kembali mencuat dan sekalui lagi menjadi viral di media sosial. Kendati rencana itu sepenuhnya terealisasi, lebih dari separuhnya telah tercapai—dan Jin terlihat cukup puas dengan pencapaiannya.
Baru-baru ini, sebuah unggahan penggemar menarik perhatian luas setelah membagikan catatan yang ditulis Jin dalam sebuah acara fansign BTS di Myeongdong bertahun-tahun silam. dalam catatan tersebut, seorang penggemar bertanya, "Apa harapan terbesarmu untuk tahun 2016?" Jin menjawab dengan singkat: "Membeli BigHit." Baik dahulu maupun sekarang, para penggemar tidak dapat menahan tawa melihat jawaban Jin yang berani sekaligus jenaka tersebut.
Di kolom komentar unggahan yang viral itu, muncul ribuan tanggapan humoris, antara lain:
"Mereka sekarang telah memiliki HYBE, bukan hanya BigHit,"
"JinHit Entertainment akan segera hadir,"
"Cerdas sejak hari pertama,"
"Jin sekarang punya perusahaan IGIN,"
"Kami menginginkan JinHit Entertainment,"
"Jin dan anggota BTS lainnya adalah pemilik HYBE,"
"Dia sudah punya visi sejak awal,"
"Kami mendukung JinHit," dan sebagainya.
Ungkapan "membeli BigHit" bukanlah sekadar lelucon atau komentar sesaat, melainkan sesuatu yang terus dimainkan Jin selama bertahun-tahun. Pada suatu waktu, ia pernah membagikan foto yang diambil di depan papan logo BigHit, dengan berani menutupi kata "Big" menggunakan wajahnya sendiri dan menuliskan keterangan, "Seharusnya JinHit." Bahkan, staf sempat mengganti nama akun tersebut menjadi JinHit untuk sementara waktu. Sejak itulah legenda "JinHit Entertainment" lahir.
Seiring berjalannya waktu, berbagai tindakan Jin terhadap Ketua Bang Si-hyuk dan staf BigHit semakin memperkuat apa yang disebut sebagai "rencana pengambilkan BigHit." Mulai dari dengan santai memotong poni rambutnya sendiri menggunakan gunting di kamar mandi, secara terbuka mengeluhkan harga merchandise perusahaan, hingga menyesuaikan harga tiket untuk konser solonya, Jin secara konsisten menunjukkan kepribadiannya yang independen—membuat para penggemar meyakini bahwa ia bukan sekadar seorang artis, melainkan sosok yang seolah-olah mampu "mengendalikan" manajemen.
Pengaruh Jin di BigHit saat ini juga tercermin jelas dalam tur solonya. Pada umumnya, rencana dan konsep pertunjukan yang diajukan oleh pihak agensi—namun tidak demikian halnya dengan Jin. Ia secara pribadi merancang konsep konser dengan menempatkan penggemar sebagai pusat pengalaman, serta menyusun secara rinci setiap kegiatan sepanjang pertunjukan yang berdurasi dua jam tersebut. Dalam praktiknya, Jin bertindak layaknya seorang sutradara, sementara staf mendukungnya untuk mewujudkan visinya.
Di saat yang bersamaan, Jin mempertahankan hubungan yang santai dan akrab dengan CEO Bang Si-hyuk. Alih-alih relasi kaku antara atasan dan bawahan, Jin kerap bercanda dengannya, memanggil sang CEO dengan sebutan "hyungnim"—istilah yang digunakan antara saudara dekat—bahkan menuntut agar Bang PD memasakkan makanan untuknya. Semua ini menegaskan posisi Jin di dalam perusahaan.
Selain itu, Jin juga menunjukkan pembawaan layaknya seorang CEO, mengingat ia tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang bisnis yang kuat serta kecakapan bisnis yang tajam. Ayah dan kakak laki-lakinya merupakan pengusaha yang sukses, dan keluarganya tergolong berada secara finansial. Saat ini, Jin bukan hanya seorang superstar K-pop, tetapi juga salah satu pemilik restoran Jepang serta merek minuman keras tradisional siap minum yang menunjukkan kinerja penjualan yang baik.
Dengan mempertimbangkan keseluruhan hal tersebut, menjadi jelas bahwa "membeli BigHit" bukanlah sekadar lelucon, melainkan sebuah rencana yang sepenuhnya berada dalam jangkauan Jin. Ketika paa penggemar tertawa mengingat catatan yang ditulis sepuluh tahun lalu, Jin mungkon saja sedang duduk di salah satu ruang tunggu, menikmati ramen sambil menelaah laporan keuangan perusahaan. Baginya, memiliki BigHit barangkali bukan lagi sebuah "harapan," melainkaan sekadar persoalan kapan ia akan meluangkan waktu untuk menandatangani dokumen-dokumennya.





Comments
Post a Comment