V: "Pada akhirnya, saya sampai pada pemahaman yang lebih mendalam mengenai pribadi seperti apa diri saya."
V pada hari itu—berkilau bak permata, jernih dan memancarkan cahaya.
GQ: Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini, V?
V: Akhir-akhir ini saya memusatkan perhatian saya pada persiapan album baru yang akan segera dirilis. Rasanya, rangkaian hari yang sangat, sangat sibuk akan segera dimulai.
GQ: Semua orang menantikan hal tersebut.
V: Benar sekali. Sudah sangat lama sejak perilisan album maupun penyelenggaraan konser. Oleh karena itu, akhir-akhir ini saya semakin sering dan semakin jelas merasakan bahwa berdiri di atas panggung merupakan motivasi terbesar dalam hidup saya.
GQ: Selama mempersiapkan album baru, mimpi-mimpi seperti apa yang kamu bagikan bersama para anggota? Apakah harapan tersebut pernah terasa membebani, mengingat ini merupakan comeback yang telah lama dinantikan?
V: Tentu saja, ada kalanya beban sebuah comeback terasa cukup berat. Namun, melebihi segalanya, saya berusaha untuk menikmatinya. Selain itu, karena saya ingin menampilkan yang terbaik untuk ARMY, eaat ini saya tidak memikirkan hal lain—selain bekerja dengan sungguh-sungguh dalam menjalani seluruh proses persiapan.
GQ: Bisakah kamu memberikan sedikit gambaran mengenai bagaimana kamu bekerja keras dalam melalukan persiapan tersebut?
V: Biasanya, saya tidak begitu memperhatikan perawatan kulit. Namun kini, saya bahkan mempersiapkan masker wajah setidaknya sekali seminggu.
GQ: Tahun ini menandai peringatan 13 tahun debut BTS. BTS telah meraih begitu banyak pencapaian, namun apabila masih ada mimpi yang tersisa, apakah mimpi tersebut—baik sebagai sebuah grup maupun sebagai V?
V: Saat ini, saya tidak memikirkan hal lain selain konser dan album baru. Namun demikian, tentu saja setiap orang perlu memiliki mimpi. Apabila saya harus menyebutkan satu, maka mimpi saya adalah agar album baru tersebut dicintai oleh ARMY. Ya—itulah mimpi saya.
GQ: Sebagai seorang musisi, ikon, serta seniman yang mempresentasikan sesuatu—seperti yang tergambar di sampul GQ—ada banyak peran yang diharapkan dari dirimu. Upaya-upaya apa saja yang tidak terlihat oleh publik yang kamu lakukan untuk memenuhi peran-peran tersebut?
V: Pengalaman. Saya berupaya dengan sungguh-sungguh untuk secara sukarela mencoba berbagai macam pengalaman. Setelah itu, saya menilai pengalaman mana yang paling sesuai dengan warna diri saya. Saya memandang seluruh proses tersebut sebagai suatu bentuk pembelajaran.
GQ: Dengan sikap seperti apa kamu menjalani berbagai pengalaman yang menuntut usaha tersebut?
V: Saya semata-mata menganggapnya menyenangkan. Rasanya seolah-olah saya sedang memerankan berbagai peran, dan beragam persona pun terbentuk secara alami.
GQ: Pada akhirnya, apa yang V peroleh dari pertemuan dengan beragam persona tersebut?
V: Jawaban ini mungkin terdengar klise, namun yang saya peroleh adalah pertumbuhan—dan perubahan. Melalui proses pertumbuhan tersebut, saya jadi lebih memahami secara jelas apa yang saya sukai dan apa yang menjadi keunggulan saya. Pada akhirnya, saya pun semakin mengenal diri saya sendiri—pribadi seperti apa diri saya sebenarnya.
GQ: Menurutmu, pada akhirnya, apa arti menjadi "ciri khas V"?
V: Hmm, sejujurnya, saya sendiri masih belum benar-benar memahaminya. Saya rasa orang-orang yang menilai dan mengamati diri saya barangkali justru lebih memahami daripada diri saya sendiri mengenai apa arti sesungguhnya dari menjadi seorang "V."
GQ: Seperti apa makna keindahan bagimu—apa standar keindahan menurut pandanganmu
V: Saya kira saya tertarik pada keindahan yang bersifat klasik dan vintage. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sejak lama saya kejar dan sering saya ekspresikan, hingga pada titik di mana ia terasa sebagai preferensi yang kuat, bahkan telah menjadi bagian dari jati diri saya saat ini. Namun demikian, saya tidak terikat secara kaku padanya. Saya selalu memiliki ketertarikan terhadap beragam nilai yang dapat disebut sebagai "keindahan."
GQ: Seperti perhiasan dan jam tangan yang kamu kenakan pada pemotretan hari ini—ketika kamu memikirkan sesuatu yang begitu indah hingga membuatmu kerap memandanginya, apa yang terlintas di benakmu?
V: ARMY kami. Mereka senantiasa ada di benak saya dan selalu menjadi sosok yang ingin saya temui. Selain ARMY, saya tidak dapat memikirkan hal yang lain.
GQ: Seperti jenis keindahan yang tidak ingin kamu kehilangan meskipun waktu terus berlalu—apa yang kamu harapkan tidak akan pernah pudar atau berubah?
V: Hal yang tidak ingin saya kehilangan adalah para anggota kami. Adapun hal yang saya harapkan tidak akan pernah berubah adalah hubungan antara kami dengan ARMY.
GQ: Pesan-pesan ini akan diterbitkan dalam GQ edisi Februari. Namun, karena percakapan kita berlangsung di penghujung tahun, izinkan saya bertanya—seperti apakah tahun 2025 bagimu, V?
V: Tahun tersebut merupakan masa di mana saya berupaya untuk bertumbuh, dan pada akhirnya saya benar-benar dapat mengalami pertumbuhan tersebut. Saya juga berusaha menuangkan serta merekam proses itu ke dalam musik saya. Di sisi lain, hal itu juga merupakan masa di mana saya mencoba, melalui berbagai kesempatan sekecil apa pun, untuk menampilkan diri saya di hadapan publik—karena saya ingin tetap dicintai oleh ARMY yang mungkin merindukan BTS selama masa hiatus kami. Tolong berikan saya pujian!
GQ: Sebagai pesan penutup, tolong sampaikan harapan-harapanmu yang paling tulus sebagai seorang V sembari melangkah memasuki tahun 2026.
V: Pertama-tama, saya berharap ARMY dapat meresahkan dan mengakui ketulusan yang terdapat dalam album ini. Album baru, penampilan comeback, serta konser—melalui seluruh rangkaian tersebut, kami akan mengekspresikan segala hal yang akan kami tampilkan kepada kalian semampu kami. Oleh karena itu, saya akan sangat berterima kasih apabila kalian dapat menerimanya apa adanya. Dan satu hal lagi: saya ingin terus berada di sisi ARMY. Tentu saja, dalam artian yang baik. Uhm... Seperti itulah—V (melanjutkan): tetap menemani.
Artikel asli: GQ Korea 260115
























Comments
Post a Comment