[Terjemahan artikel] 93% Penggemar BTS Mempelajari Bahasa Korea, Namun Dukungan Sistematis Masih Menjadi Tantangan
Artikel asli: Newswhoplus
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Sebuah survei menemukan bahwa sembilan dari sepuluh penggemar BTS di luar negeri memiliki pengalaman pengalaman mempelajari bahasa Korea. Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan menyanyi mengikuti lagu telah mendorong pembelajaran bahasa secara sukarela, sekaligus membuktikan bahwa pengaruh fandom K-pop telah meluas melampaui konsumsi budaya ke dalam tanah pendidikan.
Menurut laporan dari A Basic Study on Developing Online Language Education Programs for Fandom Communities yang dirilis oleh Multicultural Concergence Research Institute, sebanyak 93,4% dari 381 penggemar yang berasal dari 69 negara menyatakan bahwa mereka telah mempelajari bahasa Korea. Motivasi yang paling umum dalam pembelajaran tersebut adalah "ketertarikan terhadap K-pop dan para artis," sebagaimana dikemukakan oleh 70,6% responden. Dengan demikian, aktivitas penggemar telah menjadi kekuatan pendorong langsung dalam proses pembelajaran.
Namun demikian, metode pembelajaran yang digunakan sebagian besar tidak terhubung dengan sistem pendidikan yang terstruktur. Hanya 7,8% responden yang pernah mengikuti kelas tatap muka, sementara mengandalkan pembelajaran mandiri melalui aplikasi seluler atau video daring. Selain itu, lebih dari separuh responden (54%) tercatat baru belajar selama kurang dari satu tahun.
Tingkat kemahiran berbahasa Korea juga cenderung terkonsentrasi pada level pemula. Sebanyak 27% responden masih berada pada tahap "membaca dan menulis Hangeul," sedangkan 30% melaporkan kemampuan setara dengan level 1, yaitu tingkat terendah dalam Uji Kemahiran Berbahasa Korea (TOPIK). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun motivasi belajar tergolong tinggi, masih terdapat keterbatasan jalur yang menghubungkan pembelajaran dengan keberlanjutan jangka panjang serta studi tingkat lanjut.
Survei ini menegaskan perlunya mengaitkan meningkatnya permintaan terhadap pembelajaran bahasa Korea yang dipicu oleh K-pop dengan sistem pendidikan formal. Para pakar menyarankan agar pendidikan daring berbasis fandom yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dipadukan dengan sistem evaluasi yang kredibel, sehingga konten budaya dapat dioptimalkan sebagai aset praktis dalam strategi nasional mempromosikan bahasa.

Comments
Post a Comment