[Editorial] Dari "BTS Arirang" hingga Warisan Budaya Korea Global... Mengapa Dunia Tidak Merasa Canggung terhadap DNA Korea BTS
Konten sejenis: Klik Di Sini
Artikel asli: Aju News
⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋⚋
Ketika BTS menempatkan "Arirang" sebagai bagian utama dalam karya mereka, sebagian pihak menyampaikan kekhawatiran. "Bukankah itu terlalu bernuansa Korea?" "Apakah penggemar internasional dapat memahaminya?" Pertanyaan-pertanyaan semacam ini kerap muncul. Namun, hasil yang terjadi justru sebaliknya. Dunia tidak merasa canggung, tidak pula merasakan adanya jarak. Sebaliknya, pilihan tersebut diterima secara alami. Reaksi ini bukanlah suatu kebetulan. Hal ini memberikan petunjuk penting mengenai bagaimana pasar budaya global sebenarnya bekerja.
Dalam pasar global, "tradisi" sering kali dipandang sebagai faktor risiko. Tradisi dianggap memerlukan penjelasan, berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, serta menciptakan hambatan karena sifatnya yang tidak familiar. Oleh karena itu, ada banyak konten yang cenderung melemahkan unsur tradisional, mengejarnya dalam bentuk modern, serta melengkapinya dengan penjelasan yang rinci. Konten-konten Korea pun membutuhkan waktu yang lama untuk mengikuti pola ini—menampilkan identitasnya, namun menyesuaikannya hingga berada pada tingkatan yang dianggap "mudah" dipahami.
BTS tidak mengikuti pola tersebut.
Mereka tidak menjelaskan Arirang. Mereka tidak memberikan ceramah mengenai latar belakang sejarahnya. Sebaliknya, mereka hanya menghadirkan irama emosionalnya di atas panggung. Perbedaan ini bersifat menentukan. Yang diterima oleh dunia bukanlah "pengetahuan tradisional Korea," melainkan pola emosional yang telah diulang oleh masyarakat Korea selama beberapa generasi.
Kekuatan Arirang tidak terletak pada narasi tertentu. Lagu ini tidak menggambarkan peristiwa-peristiwa khusus. Sebaliknya, lagu ini secara berulang membangkitkan emosi tentang perpisahan dan perjalanan, kehilangan dan pertemuan kembali. Emosi-emosi tersebut tidak bersifat eksklusif bagi Korea. Emosi itu melintasi batas negara, melampaui bahasa, dan telah dibagikan oleh umat manusia sepanjang sejarah. BTS hanya menampilkan emosi universal tersebut melalui irama Korea. Dunia tidak memandangnya sebagai "budaya asing," melainkan sebagai perjumpaan kembali dengan perasaan yang sudah dikenal, yang diekspresikan dalam bahasa yang berbeda.
Pada titik ini, pendekatan BTS jelas berbeda dari cara Jepang dan Tiongkok yang pada umumnya memanfaatkan tradisi. Konten-konten berbasis tradisi di Jepang sering kali terlebih dahulu menyajikan pandangan dunia dan aturannya, dengan asumsi bahwa pemahaman harus mendahului keterlibatan. Konten-konten nasionalisme budaya Tiongkok bahkan lebih langsung, dengan menekankan sejarah dan legitimasi untuk secara tegas menyatakan, "Inilah budaya kami." Kedua pendekatan tersebut telah mencapai keberhasilan, namun juga cenderung menciptakan ketegangan dan jarak.
BTS mengambil pilihan yang berbeda. Mereka tidak menegaskan identitas Koreanya, dan juga tidak berupaya untuk membuktikannya. Sikap ini membuat dunia merasa nyaman. Tradisi tanpa paksaan, budaya yang tidak menuntut penjelasan, serta narasi yang memberikan ruang bagi penafsiran—semua inilah yang menjadi syarat agar tradisi dapat beresonansi di era global.
Alasan lain mengapa dunia tidak merasa canggung terhadap DNA Korea BTS terletak pada "posisi" mereka. BTS bukan lagi pelaku budaya yang berada di pinggiran. Mereka adalah fitur yang memiliki pengaruh di pusat budaya populer global. Ketika seseorang yang berada di pusat berbicara dengan bahasanya sendiri, hal itu tidak dipandang sebagai sesuatu yang eksotis atau tidak lazim, melainkan sebagai standar itu sendiri. Budaya selalu berjalan seiring dengan kekuasaan. BTS tidak itu sendiri. Budaya selalu berjalan seiring dengan kekuasaan. BTS tidak "memperkenalkan" budaya Korea; mereka "menggunakannya" dari pusat.

Comments
Post a Comment