Tiket konser gratis BTS dijual seharga 150.000 won... Praktik "percaloan" yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan modus 'pemindahan akun' dan 'pemindahan gelang'
Artikel asli: Insight
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Praktik penjualan kembali tiket secara ilegal yang mengelilingi konser BTS semakin merajalela, dengan harga tiket melonjak hingga beberapa kali lipat dari nilai aslinya. Meskipun acara tersebut merupakan konser gratis, tiket dilaporkan diperjualbelikan dengan harga 150.000 won (sekitar Rp 1.714.896), sementara tiket konser berbayar bahkan melonjak hingga mencapai 900.000 won (sekitar Rp 10.289.376).
BTS dijadwalkan menggelar pertunjukan bertajuk "BTS THE COMEBACK LIVE : ARIRANG" pada tanggal 21 di Lapangan Gwanghwamun, yang berlokasi di Seoul.
Konser tersebut disiapkan sebagai acara yang sepenuhnya gratis bagi para penggemar dan langsung habis terpesan segera setelah reservasi dibuka. Namun demikian, unggahan yang menawarkan penjualan tiket gratis dengan harga antara 120.000 hingga 150.000 won (sekitar Rp 1.371.917 - Rp 1.714.896) secara terbuka beredar di media sosial, yang jelas merupakan transaksi ilegal.
Situasi percayaan untuk konser berbayar yang dijadwalkan belangsung di Goyang pada tanggal 9 hingga 12 bulan depan bahkan dinilai jauh lebih serius. Tiket yang semula dijual dengan harga antara 198.000 hingga 264.000 won (sekitar Rp 2.263.663 - Rp 3.018.217) kini diperdagangkan secara daring dengan harga mencapai 800.000 hingga 900.000 won (sekitar Rp 9.146.112 - Rp 10.289.376).
Meskipun pemerintah telah memperkuat upaya penindakan, unggahan penjualan kembali tiket secara ilegal dengan kenaikan harga yang sangat tinggi masih terus bermunculan di berbagai platform perdagangan barang bekas maupun media sosial. Para calo juga semakin memanfaatkan metode yang lebih canggih.
Selain sekadar memindahkan tiket, berbagai taktik digunakan untuk menghindari verifikasi identitas. Metode tersebut mencakup "transfer akun" (아옮)—yakni ketika penjual membatalkan tiket dan pembeli dengan cepat membeli kembali tiket yang baru dirilis—serta "transfer gelang" (팔옮), yaitu menyerahkan secara langsung gelang masuk yang digunakan untuk akses ke lokasi acara kepada orang lain.
Beberapa unggahan penjualan kembali bahkan mencantumkan pemberitahuan bahwa pembeli harus "mencari pihak yang mampu mengatur transfer akun atau transfer gelang."
Menjelang konser yang dijadwalkan berlangsung pada 12-13 Juni di Busan, harga akomodasi di kota tersebut juga mengalami lonjakan yang signifikan. Berdasarkan survei yang dilakukan bulan lalu oleh Komisi Persaingan Usaha Korea dan Agensi Konsumen Korea, tarif penginapan di 135 fasilitas akomodasi di Busan meningkat dari sekitar 100.000 won (sekitar Rp 1.143.264) menjadi hingga 750.000 won (sekitar Rp 8.574.480) selama periode konser BTS—atau rata-rata kenaikan sebesar 2,4 kali lipat.
Pemerintah memutuskan untuk menjadikan konser BTS yang akan datang sebagai kasus uji utama bagi kebijakan penanggulangan praktik percaloan tiket, dan telah mulai mengambil langkah-langkah penanganan yang tegas.
Pada tanggal 5, Choi Hwi-young dari Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata, dalam acara peluncuran Dewan Kerja Sama Publik-Swasta untuk Pencegahan Percaloan Tiket dalam Pertunjukan dan Olahraga menyatakan bahwa konser BTS akan menjadi "kasus uji yang penting dalam upaya menerangi praktik percaloan tiket," seraya mendesak platform-plarform terkait untuk berpartisipasi secara aktif dalam upaya penanggulangan tersebut.
Menteri Choi menegaskan, "Sekalipun seseorang membeli tiket hasil percaloan untuk konser seperti konser BTS, reservasi tersebut dapat dibatalkan apabila transaksi ilegal tersebut terdeteksi. Selain itu, proses verifikasi identitas di lokasi acara pada praktiknya membuat pemindahan tiket menjadi hampir tidak mungkin dilakukan, yang berpotensi menimbulkan penipuan maupun kerugian lainnya. Oleh karena itu, penting untuk menyampaikan risiko-risiko ini kepada masyarakat serta memperoleh kerja sama mereka."


Comments
Post a Comment