Alasan Suga Memilih Berinvestasi di Bisnis Elon Musk Dibandingkan dengan Pilihan Investasi Tradisional Selebritas K-pop
Investasi Suga di perusahaan SpaceX milik Elon Musk, yang diungkap media Korea Selatan pada Juni tahun ini, langsung menjadi perhatian besar di dunia investasi. Menurut para analis, Suga bergabung sebagai investor sejak SpaceX masih berstatus perusahaan tertutup (belum melantai di bursa saham). Karena pertumbuhan perusahaan yang sangat pesat selama bertahun-tahun, para ahli memperkirakan nilai investasinya sekarang bisa mencapai sekitar 40 kali lipat dari modal awal.
Investasi tersebut terbukti menjadi keputusan jangka panjang yang sangat menguntungkan. Hal ini menunjukkan bahwa Suga memiliki pandangan yang tajam dalam melihat potensi besar Elon Musk, jauh sebelum banyak orang menyadarinya. Para analis juga menilai strategi investasi Suga sangat berani dan berbeda dari kebiasaan selebriti Korea Selatan pada umumnya.
Biasanya, selebriti Korea lebih memilih berinvestasi pada aset yang dianggap aman, terutama properti. Banyak dari mereka membeli apartemen mewah, gedung komersial, atau tanah di kawasan elit seperti Gangnam, Hannam-dong, Cheongdam-dong, dan Seongsu-dong untuk disewakan atau dijual kembali dengan keuntungan. Selebriti seperti Rain, Jun Ji-hyun, IU, G-Dragon, bahkan beberapa anggota BTS dikenal memiliki portofolio properti yang besar.
Lalu, mengapa SUGA memilih jalan yang berbeda?
Dalam analisis berjudul "Mengapa SUGA BTS Memilih Berinvestasi di 'Luar Angkasa' daripada Properti", surat kabar Segye Ilbo menjelaskan bahwa strategi keuangan SUGA bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan besar. Ia lebih berfokus pada nilai jangka panjang, bukan pada naik turunnya pasar atau mengikuti tren. Filosofi ini disebut sebagai "hukum kesabaran", yaitu tetap bertahan menghadapi gejolak pasar hingga nilai sebenarnya dari sebuah aset benar-benar terlihat.
Banyak selebriti Korea memang mengumpulkan kekayaan melalui properti mewah dan gedung komersial. Namun, investasi seperti itu juga membuat banyak modal terkunci dan menimbulkan beban finansial berupa pajak, biaya perawatan, dan pengeluaran lainnya.
Contohnya adalah J-Hope, anggota BTS yang dikenal paling sukses dalam investasi properti. Ia pernah memiliki empat properti dengan nilai gabungan sekitar 27 miliar won Korea (sekitar 18,5 juta dolar AS). Namun, pada Maret 2025, ia menjual salah satu propertinya setelah tarif pajak tambahan naik dari 20% menjadi 30%. Bahkan, besarnya pajak tambahan tersebut disebut setara dengan gaji tahunan seorang karyawan di perusahaan besar.
Berbeda dengan itu, setelah keluar dari asrama BTS, SUGA memilih tinggal di apartemen mewah menggunakan sistem jeonse, yaitu sistem sewa khas Korea Selatan di mana penyewa membayar uang jaminan dalam jumlah besar tanpa membayar sewa bulanan. Dengan cara ini, ia tetap bisa tinggal di tempat yang nyaman sambil mempertahankan hampir seluruh uangnya tetap likuid (mudah digunakan kapan saja) untuk memanfaatkan peluang investasi di berbagai belahan dunia. Menurut Segye Ilbo, strategi inilah yang akhirnya memungkinkan SUGA ikut berinvestasi di SpaceX.
Investasinya pun tidak berhenti di SpaceX. SUGA juga menanamkan modal pada tim bisbol Amerika Athletics melalui dana investasi yang dikelola oleh Team 61, perusahaan yang didirikan legenda bisbol Korea, Park Chan-ho. Dana tersebut bernilai sekitar 70 juta dolar AS dan didukung oleh berbagai investor lain. Langkah ini menunjukkan bahwa SUGA membangun portofolio investasi yang beragam, bukan hanya bergantung pada satu jenis aset.
Menurut Segye Ilbo, kemampuan SUGA mengambil keputusan investasi yang berani dan berorientasi jangka panjang berasal dari cara berpikirnya dalam mengelola risiko, yang terbentuk sejak usia muda. Mulai dari masa sulitnya saat berusia 13 tahun bekerja di studio rekaman bawah tanah di Daegu, hingga bertahun-tahun menahan cedera bahu selama menjadi trainee sebelum akhirnya menjadi bintang dunia, SUGA belajar untuk "tidak pernah terlalu yakin terhadap masa depan." Prinsip itu kemudian berkembang menjadi filosofi investasi yang menekankan pentingnya menyebarkan risiko dan memilih aset yang memiliki nilai nyata.
Surat kabar tersebut juga menilai bahwa filosofi yang sama terlihat dalam cara SUGA bermusik. Ia tidak hanya menulis lagu, tetapi juga mengerjakan sendiri proses teknis seperti pemrograman MIDI dan mixing, sambil mempelajari teori harmoni secara mendalam. Etos kerjanya yang kuat bukan didorong oleh keinginan mencari uang dengan cepat, melainkan oleh keyakinan terhadap kualitas karya. Sikap itulah yang menjadi dasar kesuksesannya sebagai musisi sekaligus investor. Musik yang ia ciptakan pun dianggap sebagai aset budaya yang nilainya terus meningkat seiring waktu.
Nilai tersebut juga diwujudkan dalam kontribusi nyata bagi masyarakat. Selain menyumbangkan 5 miliar won Korea (sekitar 3,4 juta dolar AS) untuk mendirikan Min Yoongi Treatment Center di Rumah Sakit Severance, SUGA juga ikut menyusun Program MIND, yaitu panduan terapi musik untuk anak-anak dengan gangguan spektrum autisme. Ia bahkan menjadi sukarelawan yang mengajar musik secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya peduli terhadap masalah sosial, tetapi juga ikut berusaha menciptakan solusi yang bermanfaat.
Sebagai penutup, Segye Ilbo menulis bahwa seperti musik ciptaan SUGA yang tidak mengejar tren sesaat melainkan menceritakan kisah yang mampu bertahan sepanjang waktu, cara ia mengelola uang pun lebih mengutamakan pertumbuhan yang memiliki nilai sejati daripada keuntungan instan. Bagi SUGA, investasi bukan sekadar cara untuk memperbanyak kekayaan, tetapi juga merupakan bentuk lain dari proses berkarya—sebuah cara untuk mewujudkan filosofi hidup yang ia yakini ke dalam dunia nyata.
Catatan:
Jeonse (μ μΈ) adalah sistem sewa rumah khas Korea Selatan, di mana penyewa membayar uang jaminan dalam jumlah besar di awal masa sewa dan tidak perlu membayar uang sewa bulanan. Setelah masa sewa berakhir, uang jaminan tersebut biasanya dikembalikan kepada penyewa sesuai perjanjian.






Comments
Post a Comment