Komentar Jujur SUGA tentang Peluang Idol K-pop Tampil di Tiongkok Kembali Jadi Sorotan Pasca-KTT

 


Pada Januari tahun ini, Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung bertemu di Beijing dalam kunjungan kenegaraan Lee ke Tiongkok. Di Balai Agung Rakyat (Istana Kepresidenan), kedua pemimpin tersebut membahas berbagai isu penting antara kedua negara, termasuk keamanan, ekonomi, pertukaran budaya, dan perdamaian wilayah.

Salah satu topik yang dibahas adalah perluasan kerja sama di bidang budaya dan hiburan, termasuk upaya meningkatkan kembali kehadiran budaya Korea di Tiongkok setelah bertahun-tahun mengalami pembatasan. Presiden Lee dan Presiden Xi sepakat untuk memperkuat pertukaran antarmasyarakat, terutama di kalangan anak muda, serta kerja sama di sektor media, olahraga, dan pemerintah daerah serta wilayah dan kota.

Diskusi tersebut segera memicu harapan di kalangan penggemar bahwa tur duni BTS pada akhirnya mungkin akan memasukkan Beijing sebagai salah satu  perhentiannya. Namun, kenyataannya adalah meskipun hubungan antara Seoul dan Beijing baru-baru ini mencair, prospek pencabutan apa yang disebut larangan Hallyu—pembatasan tidak resmi yang diberlakukan terhadap konten budaya Korea Selatan di Tiongkok—tetap tidak pasti.




Akibatnya, Tiongkok daratan masih absen dari rencana perjalanan tur dunia BTS tahun 2026. Bahkan setelah tur tersebut diperluas menjadi 88 pertunjukan di 34 kota di seluruh dunia, grup ini belum menjadwalkan satu pun konser di Tiongkok daratan.

Surat kabar Singapura Lianhe Zaobao melaporkan bahwa meskipun BTS memiliki lebih dari 5,6 juta pengikut di Weibo, grup tersebut telah mengonfirmasi tiga konser di Hong Kong pada Maret 2027. Laporan itu mencatat bahwa hal ini menegaskan bagaimana pembatasan tidak resmi—yang diyakini luas bermula dari pengerahan sistem pertahanan rudal THAAD oleh Korea Selatan pada tahun 2016—tetap berlaku kuat di Tiongkok daratan, tempat di mana konser K-pop tidak pernah ada lagi selama hampir satu dekade.

Dalam kontek ini, para penggemar teringat kembali akan pernyataan "prediktif" yang dibuat oleh Suga dalam sebuah siaran langsung. Saat itu, para penggemar memintanya untuk mengadakan konser di Tiongkok daratan, tetapi ia langsung menjawab dengan ekspresi pasrah yang terlihat jelas: "Semuanya, tidak mungkin bagiku untuk tampil di Tiongkok."

Ia menjelaskn bahwa mempromosikan musik di Tiongkok sangatlah sulit—bahkan bagi grup yang memiliki anggota asal Tiongkok. Ia menunjukkan bahwa jika sebuah grup yang memiliki anggota dari Tiongkok, hanya individu tersebut yang diizinkan untuk melakukan promosi di sana.

"Dalam satu grup K-pop saat ini, ada orang Korea, Tiongkok, dan anggota dari berbagai kewarganegaraan. Aku telah melihat kasus di mana anggota Tiongkok diizinkan bekerja di Tiongkok, tetap grup itu sendiri tidak diizinkan," katanya.




Contoh nyata yang mendukung penjelasan Suga adalah aespa. Karena Ningning adalah orang Tiongkok, ia dapat kembali ke Tiongkok dan menjalankan aktivitas individu, tetapi aespa sebagai grup tidak dapat tampil di Tiongkok. Kasus SEVENTEEN dan WayV juga serupa, meskipun kedua grup tersebut juga memiliki anggota asal Tiongkok.




Tidak hanya SUGA, tetapi para pakar industri dan akademisi juga terus mengekspresikan pandangan yang sama. Meskipun kunjungan Presiden Korea Selatan Lee ke Tiongkok baru-baru ini mungkin menandakan mencairnya hubungan diplomatik, para pakar percaya bahwa pelonggaran pembatasan budaya akan berjalan "sangat lambat."

Sarah Keith, seorang pakar media di Universitas Macquarie, mencatat bahwa diperlukan waktu hingga lima tahun bagi artis Korea untuk memulihkan keadaan mereka di Tiongkok ke tingkat sebelum adanya larangan. Ia juga menunjuk bahwa konsumsi konten Korea yang kuat di Tiongkok dapat membuat Beijing memprioritaskan kepentingan industri hiburan domestiknya sendiri.

Meskipun aktivitas "pertukaran budaya" dalam skala yang lebih kecil—seperti acara penandatanganan jabat tangan penggemar (fan signing)—mungkin akan berangsur pulih di kota-kota tingkat pertama, para analis percaya bahwa tur tingkat stadion tampaknya tidak akan kembali dalam waktu dekat, karena Beijing masih terus menyeimbangkan antara permintaan pasar dan perlindungan terhadap industri hiburan domestik mereka.

Bahkan selama KTT bilateral itu sendiri, Xi Jinping secara tersirat menyatakan bahwa mencabut pembatasan terhadap Hallyu akan sulit, dengan menyatakan, "Lapisan es setebal tiga kaki tidak akan membeku dalam sehari, juga tidak akan mencair sekaligus. Dan juga, buah hanya akan jatuh jika sudah matang."




Lapisan es tebal yang mengekang Hallyu mulai terbentuk sekitar tahun 2016, setelah Korea selatan mengerahkan sistem pertahanan rudal THAAD. Sejak saat itu, selama hampir satu dekade, tidak ada atu pun konser idola K-pop yang diadakan di Tiongkok daratan. Sementara itu, musik, film, dan program varietas yang berkaitan dengan Hallyu sering kali menghadapi pembatasan, ditolak perizinannya, atau diblokir dari penyiaran di platform-platform Tiongkok.

Selain berfungsi sebagai tindakan pembalasan tidak resmi terhadap Korea Selatan, pembatasan ini juga berakar pada pola pikir Beijing yang defensif—yaitu, kekhawatiran bahwa gelombang Hallyu dapat membawa pengaruh kapitalis dan merusak fondasi budaya Tiongkok. Meskpun musik dan politik adalah dua ranah yang terpisah, keduanya tidak dapat dihindari untuk saling memengaruhi Tiongkok, tampaknya, berniat untuk membatasi penyebaran budaya populer Korea di daratan selama mungkin.









Comments

Popular posts from this blog

Nicole Kim, Penerjemah BTS, Kembali ke Big Hit Music dengan Jabatan Bergengsi

Media Korea melaporkan keuntungan besar yang dihasilkan untuk Korea Selatan oleh penampilan BTS di Gwanghwamun

ARMY menemukan alasan yang sebenarnya mengapa hidung Jungkook belakangan ini disangka hasil operasi plastik