Laporan Pendapatan Terbaru HYBE Membuktikan Mengapa Grammy Tidak Lagi Relevan bagi BTS
Pada tanggal 29, ketujuh anggota BTS mengejutkan para penggemar dengan mengunggah pesan yang sama secara bersamaan di akun media sosial pribadi mereka: "Kami memutuskan untuk tidak mengajukan karya kami untuk Grammy tahun ini."
Banyak analis meyakini bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan kategori baru Best Asian Pop Music Performance yang diperkenalkan oleh Recording Academy. Di industri musik, sejumlah kritikus berpendapat bahwa memisahkan K-pop—dan musik Asia secara keseluruhan—ke dalam kategori tersendiri yang pada dasarnya menciptakan "tembok" baru yang menghalangi artis Asia untuk bersaing di level yang sama dengan artis lainnya.
Namun, BTS tidak secara langsung menyebut kategori baru tersebut ataupun memberikan alasan spesifik mengapa mereka memilih untuk tidak mengajukan karya mereka. Sebaliknya, melalui pernyataan, "Kami berharap musik dapat diakui dan dicintai apa adanya, bukan dibedakan berdasarkan wilayah atau bahasa." mereka secara halus menyampaikan alasan di balik keputusan itu. Ironisnya, BTS baru saja membuktikan betapa besarnya kekuatan musik ketika dihargai murni karena nilai seninya melalui angka-angka yang luar biasa yang terungkap dalam laporan keuangan kuartal kedua HYBE.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal kedua tahun 2026 yang baru dirilis HYBE, perusahaan membukukan pendapatan sebesar 1,45 triliun won (sekitar Rp 18.211.492.500), meningkat 105,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba operasional juga naik ke rekor 170,9 miliar won (sekitar Rp 2.146.869.726), atau meningkat 159,3% secara tahunan.
HYBE menyatakan bahwa ini merupakan pertama kalinya pendapat kuartalan mereka melampaui 1 triliun won (sekitar Rp 12.567.160.000), sementara laba operasional juga menembus 100 miliar won (sekitar Rp 1.256.437.000.000) untuk pertama kalinya. Laba bersih melonjak 613% menjadi 109,8 miliar won (sekitar Rp 1.379.432.772.000), sedangkan pendapatan perusahaan sepanjang semester pertama juga utuk pertama kalinya dalam sejarah berhasil melampaui 2 triliun won (sekitar Rp 25.126.120.000).
Perusahaan menjelaskan bahwa pertumbuhan luar biasa tersebut terutama didorong oleh comeback BTS melalui album studio kelima mereka, ARIRANG, pada bulan Maret, serta dimulainya ARIRANG World Tour pada bulan April.
Setelah dirilis, ARIRANG langsung debut di peringkat No. 1 Billboard 200, menjadikannya album ketujuh BTS yang berhasil memuncaki chart album tersebut. Lagu utamanya, "SWIM," juga debut di posisi No. 1 Billboard Hot 100, sekaligus menjadi lagu ketujuh BTS yang berhasil menduduki puncak tangga lagu tersebut.
Yang lebih mengesankan lagi, ARIRANG bertahan di posisi No. 1 Billboard 200 selama tiga minggu berturut-turut, menjadikannya album K-pop pertama dalam sejarah yang mencapai prestasi tersebut. Billboard mencatat bahwa album ini merupakan album pertama sejak "The Life of a Showgirl" milik Taylor Swift yang berhasil menghabiskn tiga minggu pertamanya langsung di posisi No. 1 setelah dirilis.
Seiring kesuksesan besar albumnya, ARIRANG World Tour juga berkembang menjadi fenomena global. Dengan total 88 konser di 34 kita di lima benua, tur ini kini menjadi tur dunia terbesar dalam sejarah K-pop. Menurut Billboard, hanya dalam waktu dua bulan sejak dimulai, tur tersebut telah menghasilkan pendapatan kumulatif sebesar 315,8 miliar won (sekitar Rp 3.971.333.426.000). Delapan konser pertamanya saja—yang digelar di Goyang, Tokyo, dan Tampa—mencetak pendapatan konser sebesar US$76,2 juta, sekaligus membawa BTS ke posisi No. 1 dalam chart Billboard Top Tours.
Angka-angka tersebut terus meningkat pada bulan-bulan berikutnya. Rangkaian konser di Amerika Utara berhasil menarik 840.000 penonton, dengan seluruh pertunjukan terjual habis. Sementara itu, rangkaian konser di Eropa yang baru saja berakhir menarik 717.000 penonton lainnya. Dua konser BTS d Paris bahkan masing-masing dihadiri 92.000 penggemar setiap malam, mencetak rekor jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah konser BTS. Seluruh konser di Eropan juga langsung habis terjual sejak penjualan tiket pertama dibuka.
Memasuki kuartal kedua, ketika pendapatan dari tur stadion dan dome BTS mulai tercatat, pertumbuhan HYBE meningkat secara signifikan. Berdasarkan segmen bisnis, pendapatan dari konser mencapai 647,7 miliar won (sekitar Rp 8.149.750.020.000), sedangkan penjualan album dan musik digital menyumbang 326,8 miliar won (sekitar Rp 4.111.849.888.000). Penjualan merchandise (MD) dan lisensi—yang turut terdongkrak oleh aktivitas konser—juga mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dengan pendapatan 310,6 miliar won (sekitar Rp 3.909.394.854.000).
Melihat angka-angka yang luar biasa tersebut, para pakar industri mulai menggunakan istiah "BTS-nomics", yang dibandingkan dengan fenomena "Swiftnomics" milik Taylor Swift. Reuters memperkirakan bahwa ARIRANG World Tour pada akhirnya dapat menghasilkan pendapatan sekitar US$1,8 miliar (sekitar Rp 32.541.120.000). Bloomberg bahkan memberikan proyeksi yang lebih optimis, yakni sekitar US$2,2 miliar (sekitar Rp 39.767.200.000.000), setara dengan total pendapatan yang dihasilkan The Eras Tour milik Taylor Swift.
HYBE bersama Hyundai Research Institute bahkan melangkah lebih jauh dalam analisis mereka. Mereka memperkirakan bahwa gabungan pendapatan langsung dari comeback dan tur dunia BTS, ditambah efek ekonomi tidak langsung serta peningkatan nilai merek nasional Korea Selatan, dapat menghasilkan dampak ekonomi dengan total hingga 92,7 triliun won (sekitar Rp 1.163.064.258.000.000). Apa yang sebelumnya hanya diaggap sebagai istilah populer di media yang kini telah didukung oleh data-data nyata yang tercermin dalam laporan keuangan kuartal kedua HYBE.
Di tengah situasi tersebut, kutipan dari jurnalis Forbes, Bryan Rolli, kembali menjadi perbincangan dan ramai dibagikan di media sosial. Dalam artikelnya yang berjudul "BTS's 2020 Grammys Shoutout Reveals the Recording Academy's Cultural Blindspot," ia menulis: "Ketika BTS terus memecahkan rekor dan Grammy semakin kehilangan relevansinya, sebenarnya siapa yang lebih membutuhkan siapa?"
Sementara BTS terus menjual jutaan album, memuncaki tangga lagu Billboard, menggelar tur berskala stadion yang selalu terjual habis di seluruh dunia, serta menghasilkan nilai ekonomi hingga puluhan miliar dolar, Grammy Awards dalam beberapa tahun terakhir justru semakin sering dikritik karena mengabaikan album-album yang mendapat pujian dari para kritikus, lebih mengutamakan genre tertentu, kurang memiliki keberagaman, dan berulang kali memicu kontroversi dalam kategori-kategori paling bergengsi mereka.
Recording Academy juga berkali-kali dituduh mengabaikan sejumlah musisi paling berpengaruh di dunia. Ketika sebuah ajang penghargaan besar secara konsisten gagal memberikan pengakuan kepada para musisi yang membentuk lanskap musik global saat ini, wajar jika muncul pertanyan apakah lembaga tersebut masih benar-benar mewakili industri musik dunia.
Sementara itu, industri musik sendiri telah berubah secara mendasar. Era streaming telah menghapus batas-batas geografis, dan para artis yang tidak berbahasa Inggris kini mampu mendominasi pasar global. Namun, para kritikus menilai Recording Academy masih menggunakan cara pandang lama yang terlalu berpusat pada Amerika Serikat, sehingga terus memunculkan tuduhan adanya bias rasial dan budaya.
Pada titik ini, pertanyaan Bryan Roli tampaknya telah terjawab dengan sendirinya. Mungkin keputusan terbaru BTS—untuk sama sekali tidak mengajukan karya mereka ke Grammy—telah menjadi jawaban yang paling jelas sekaligus paling kuat.
Secara keseluruhan, artikel ini sudah berada pada tingkat penulisan editorial yang hampir profesional. Revisi yang dilakukan terutama bertujuan untuk meningkatkan tata bahasa, konsistensi, tanda baca, dan keterbacaan tanpa mengubah argumen maupin nada penulisan nada asli.





Comments
Post a Comment